DPR

[DPR][bleft]

MPR

[MPR][bleft]

DPD

[DPD][bleft]

DPRD

[DPRD][bleft]

Akhir Cerita Karpet Merah


TAK  ada angin dan tiada hujan, menjelang pukul 16.30 WIB tiba-tiba Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang masuk ke ruangan wartawan peliput parlemen. Tanpa basa-basi dia mengeluhkan keberadaan jalur karpet merah yang memanjang mulai dari pintu masuk hingga ke lift Gedung
Nusantara III Kompleks Parlemen yang selama ini menjadi tempat berkantor para pimpin DPR,DPD, dan MPR.

Oesman gusar karena karpet tetap terpasang meski tidak ada tamu negara yang datang. Jelas bukan menunjukkan kedekatan dengan rakyat. Bahkan ini berari atau memberi pesan menjauhkan pimpinan parlemen dari rakyat.

“Masa karpet merah itu hanya untuk pimpinan DPR dan  tamunya saja. Saya saja pimpinan MPR tidak boleh melewati karpet itu, aneh juga,” kata Oesman, belum lama ini.

Menurutnya, sejak dia menjadi anggota MPR, dari dulu tidak melihat digelarnya karpet merah setiap hari. Namun entah mengapa semenjak terpilih Ketua DPR yang baru (periode 2014-2019), tiba-tiba saja di pintu masuk ruang pimpinan DPR terpasang karpet merah sepanjang waktu dan sepanjang hari. Padahal lazimnya, karpet merah baru digelar  bila ada ‘orang yang sangat penting’ berkunjung untuk menemui pimpinan DPR.

‘’Eh, ini di  masa reformasi malah ada karpet itu. Padahal buat apa, sih, karpet itu. Kalau minta dihormati tidak harus  gelar karpet merah,” tegasnya.

Oesman  juga menyayangkan dengan digelar karpet merah itu sama saja merendahkan posisi wartawan. Tamu DPR yang berasal dari orang biasa juga tak leluasa melintasi ruangan ini karena dibatasi oleh tali pembatas.

“Masa wartawan jika ingin wawancara  pimpinan DPR RI harus mengikuti batas karpet. Janganlah seperti itu, sepertinya ada upaya untuk membatasi wartawan dengan pimpinan DPR. Tamu orang awam yang datang ke DPR  juga terganggu,” ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, karpet merah yang berukuran lebar dua meter dengan panjang sekitar 50 meter menghiasai ruangan lobi Gedung Nusantara 3. Anehnya, meski tak ada yang lewat tetap tak sembarang orang bisa menginjak karpet itu.

Petugas pengamanan dalam (Pamdal) DPR segera saja menegur bila ada orang yang iseng berusaha melintas karpet tersebut. Tak cukup dengan diawasi Pamdal, agar taka ada ‘orang awam’ menginjaknya, disepanjang pinggiran karpet diberi pagar dengan menggunakan tali pembatas khusus berwarna merah.

Selama ini sudah banyak orang yang mengeluhkan dibentangkannya karpet itu. Bahkan kalangan wartawan peliput DPR sudah memperingatkan bila keberadaan karpet merah tersebut selain tak elok, nantinya hanya akan mengundang masalah saja.

‘’Saya sudah peringatkan soal itu kepada Pak Ketua DPR. Keberadaan karpet tersebut akan membuat masalah. Bentangan karpet merah malah melambangkan keangkuhan karena hanya boleh dilewati orang tertentu yang nota bene wakil rakyat. Ingat DPR itu bukan ajang AMI Award atau perebutan piala citra.Kehormatan DPR bukan karena bentangan karpet merah,’’ kata seorang wartawan sewot.

Dan kini karpet merah itu telah digulung mungkin untuk dicuci dan disimpan sambil menunggu tamu agung dari luar negeri? Lalu mana karpet merah untuk rakyat, pejuang kemanusiaan di daerah yang sepi dari pemberitaan? (

Tidak ada komentar: