Oleh-oleh Oso dari Malaysia dan Hong Kong - Kabarparlemen.com | Situs Berita Parlemen Indonesia

Post Top Ad

Oleh-oleh Oso dari Malaysia dan Hong Kong

Oleh-oleh Oso dari Malaysia dan Hong Kong

Share This
KUALALUMPUR, KABARPARLEMEN.COM -- Kabut asap yang melanda sebagian wilayah Indonesia hampir tiga bulan telah hilang bersamaan dengan musim penghujan. Namun, isu kabut asap tak pernah mati. Buktinya soal kabut asap masih dipersoalkan dalam sosialisasi $ Pilar Kehidupan Berbangsa (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) di Malaysia.

Dalam sosialisasi yang digelar di Kantor KBRI di Jl. Tun Razak No. 233, Kuala Lumpur, 16 November lalu, melibatkan puluhan warga negara Indonesia yang berada di negeri jiran itu. Dalam acara itu yang memberi sosialisasi 4 Pilar, selain Wakil ketua MPR Oesman Sapta (Oso), juga anggota MPR lainnya seperti Abdul Kadir Karding dan Abdul Malik Haramain dari Fraksi PKB, M Idris Laena dari Fraksi Partai Golkar, Hermanto dari Fraksi PKS, Zainut Tauhid dari Fraksi PPP, Djoni Rolindrawan dari Fraksi Partai Hanura, dan Djasarmen Purba, Delis Jukarson Hehi dan Eni Sumarni yang semuanya dari anggota MPR dari Kelomnpok DPD.

Dubes Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno saat sambutan menyinggung soal kabut asap yang sempat menyelimuti Kuala Lumpur. Kabut asap itu berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. "Alhamdulillah kabut asap sudah hilang,” ujarnya. “Saya sudah capek juga ditanya-tanya, kapan kabut asap hilang, kapan kabut asap hilang," tambahnya.

Dalam soal kabut asap, Oesman Sapta menimpali apa yang dikatakan Herman. Menurutnya, kabut asap sudah terjadi selama bertahun-tahun dan sudah seharusnya pemerintah memberikan solusi yang nyata untuk menyelesaikannya. "Kita diuji, jangan menyalahkan siapa-siapa,” paparnya. “Sepuluh tahun itu sudah terjadi tapi tidak pernah ada langkah-langkah untuk menyelesaikan itu," tambahnya.

Sebagai negara yang dibanjiri tenaga kerja dari Indonesia, dalam sosialisasi di negeri serumpun itu Oesman Sapta juga membahas soal TKI. Diakui bahwa hubungan kedua negara, Indonesia dan Malaysia, dari waktu ke waktu semakin membaik. Buktinya 2 TKI dibebaskan dari hukuman mati karena pendekatan diplomasi Indonesia. "Hubungan baik berkat terobosan Indonesia dalam berdiplomasi sehingga 2 orang tersebut dibebaskan," ujar Oesman Sapta.

Warga negara Indonesia yang menjadi peserta sosialisasi itu menyambut baik acara yang digelar oleh MPR. Mereka antusias saat diberi kesempatan untuk menyampaikan sejumlah pertanyaan. Terlihat mereka banyak bertanya tentang nasib tenaga kerja Indonesia hingga masalah kewarganegaraan. Salah seorang peserta, Usman, bertanya apa pengaruh pengamalan 4 Pilar dengan nasib para TKI di luar negeri.

Pada  tanggal 19 November 2015, delegasi MPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua MPR Oesman Sapta melakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR di Hong Kong. Dikatakan oleh Oesman Sapta, "Hong Kong merupakan satu negara yang luar biasa bagi saya, negara ini pertama di mana saya tugas ke luar negeri. Saya orang yang bertugas memberikan visa," ujarnya. Lebih lanjut dikatakan Oesman Sapta, kunjungan ke Hong Kong merupakan hal yang penting sebab negara ini sebagai jembatan Indonesia ke China.

Setelah melakukan Sosialisasi 4 Pilar, delegasi MPR melakukan kunjungan ke Legislative Council (Legco) Hong Kong. Di Parlemen Hong Kong itu, Oesman Sapta disambut oleh President of Legco Hong Kong, Hon Jasper Tsang.

Tsang saat menerima delegasi MPR memperlihatkan gedung parlemen yang baru dibangun. Mereka diajak keliling bangunan baru itu. Tsang mengatakan, gedung ini baru dibangun 4 tahun lalu dan sangat bangga untuk menunjukkannya.

Dalam kesempatan itu, terjadi perbincangan mengenai fungsi dan wewenang Legco dan parlemen Indonesia. Dikatakan Oesman Sapta, Hong Kong mempunyai hubungan yang kuat dengan Indonesia. "Saya tahu kita punya masalah dengan aksi demokrasi, saya rasa kita sudah masuk ke dalam sistem baru dengan publik. Kami ingin memastikan bahwa kita masih mempunyai koneksi yang kuat dengan kalian semua," ujar Oesman Sapta.

Tsang dalam kesempatan itu memaparkan, anggota Legco berjumlah 70 orang. Tujuh puluh orang dibagi menjadi 2. Tiga puluh lima orang dipilih melalui pemilihan sesuai dengan daerahnya, ada 5 daerah di Hong Kong. Lalu 35 lagi sesuai dengan profesi, ada pengacara, dokter, akuntan, dan sebagainya. Puas dengan sambutan Tsang, Oesman Sapta pun mengundang Tsang berkunjung ke Indonesia.

Dalam kunjungan ke negeri yang produktif membikin film Mandarin itu, delegasi MPR juga melakukan peninjauan dua bank milik pemerintah Indonesia, BNI dan Bank Mandiri. Dalam peninjauan Kantor BNI, Oesman Sapta bertemu dengan para TKI yang hendak mengirim uang ke kampung halamannya di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Oesman Sapta langsung bertanya pada TKI yang bernama Muharom. "Kalau transfer, ada problem enggak?"  Pertanyaan itu langsung dijawab oleh Muharom, "Nggak ada, teknologi sangat bagus."

Setelah meninjau BNI, Oesman Sapta melanjutkan ke Bank Mandiri. Di Bank Mandiri, dirinya juga berjumpa muka dengan 3 TKW. Ia pun juga bertanya, "Gaji berapa? Cukup? Yang dipakai hidup berapa di sini?"

Pertanyaan itu dijawab oleh salah satu di antara mereka, "Gaji 4.200 dolar Hong Kong, sekitar Rp 8 jutaan. Yang dipakai sekitar 1.000. Cukuplah. Di sini tidak ada kesulitan Pak, kalau ada kesulitan bilang ke agen atau ke KBRI bisa juga," kata seorang TKW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages